Ramadan, Penabur Benih Kedamaian

Ramadan, Penabur Benih Kedamaian

Oleh: Ahmad Saefudin, M.Pd.I. l Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara Di saat hati mayoritas muslim sedunia tengah berbahagia menyambut datangnya bulan Ramadan, sebagian kecil kelompok yang mengatasnamakan Islam justru menebar ketakutan dengan rentetan aksi teror sistemik. Dimulai dari kericuhan napi terorisme di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob (8/5), aksi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Surabaya, ledakan di rumah susun Wonocolo Sidoarjo (13/5), dan serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya (14/5). Padahal, sejak bulan Rajab atau dua bulan sebelum Ramadan, masjid dan surau tidak pernah sepi dari seruan doa agar kita senantiasa diberi kesempatan untuk sampai kepada bulan Ramadan. "Alluhumma bariklana fi rajaba, wa sya'bana, wa ballighna ramadhana". Tampaknya lantunan zikir ini diabaikan oleh parateroris sehingga lebih memilih menghabisi nyawa dengan meledakkan diri sebelum Ramadan tiba. Sebagai bulan lumbung pahala, Ramadan bisa jadi tidak begitu menarik lagi bagi kelompok "muslim" yang telah terjangkit ideologi radikal. Buat apa juga susah-susah shalat tarawih, bangun malam untuk mendirikan shalat dan ibadah makan sahur, mendengarkan kultum dari penceramah sehabis subuh dan setiap menjelang berbuka puasa, serta aneka ritual peribadatan lain yang ribet dan bertele-tele. Bukankah dengan aksi bom bunuh diri, semuanya jadi lebih praktis dan mudah? Label syahid, sudah pasti. Ragam kenikmatan surgawi pun telah menanti. Inilah sesat pikir yang perlu kita benahi. Momentum Ramadan kali ini semestinya mampu kita manfaatkan untuk menabur benih-benih kedamaian dalam beragama. Lelah mengkampanyekan Islam sebagai Agama Cinta, sama juga memberikan peluang kepada teroris untuk melakukan tindakan-tindakan kekejian berikutnya. Nabi kita, Muhammad saw. selalu mengajarkan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak pernah diajarkan dalam misi risalah. "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’: 107). Meninggikan derajat Tuhan tidak bisa dilakukan dengan cara merendahkan martabat kemanusiaan. Mendekatkan diri kepada Tuhan, mustahil kita kerjakan dengan cara menjauhi norma-norma kemanusiaan. Mutiara hikmah dari Syamsi Tabrizi, guru Jalaluddin Rumi, yang dikutip oleh Husein Muhammad dalam epilog buku "Islam Tuhan Islam Manusia" patut kita renungkan. "Mencintai Tuhan yang sempurna, suci, dan agung itu mudah. Yang paling sulit adalah mencintai manusia yang serba kekurangan. Ingatlah, orang tidak akan mengerti selain apa yang dia cintai. Selama kita tidak pernah belajar mencintai ciptaan Allah, maka kita tidak akan pernah benar-benar mencintai apapun dan tak akan pernah mengenal Allah." Mari kita terus belajar mencintai manusia lain, meskipun tidak seagama, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah swt. Sang Mahacinta. "Wallahu a'lam bis shawab."
Oleh: Ahmad Saefudin, M.Pd.I. l Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara Di saat hati mayoritas muslim sedunia tengah berbahagia menyambut datangnya bulan Ramadan, sebagian kecil kelompok yang mengatasnamakan Islam justru menebar ketakutan dengan rentetan aksi teror sistemik. Dimulai dari kericuhan napi terorisme di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob (8/5), aksi bom bunuh diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta Surabaya, ledakan di rumah susun Wonocolo Sidoarjo (13/5), dan serangan bom bunuh diri ke Polrestabes Surabaya (14/5). Padahal, sejak bulan Rajab atau dua bulan sebelum Ramadan, masjid dan surau tidak pernah sepi dari seruan doa agar kita senantiasa diberi kesempatan untuk sampai kepada bulan Ramadan. "Alluhumma bariklana fi rajaba, wa sya'bana, wa ballighna ramadhana". Tampaknya lantunan zikir ini diabaikan oleh parateroris sehingga lebih memilih menghabisi nyawa dengan meledakkan diri sebelum Ramadan tiba. Sebagai bulan lumbung pahala, Ramadan bisa jadi tidak begitu menarik lagi bagi kelompok "muslim" yang telah terjangkit ideologi radikal. Buat apa juga susah-susah shalat tarawih, bangun malam untuk mendirikan shalat dan ibadah makan sahur, mendengarkan kultum dari penceramah sehabis subuh dan setiap menjelang berbuka puasa, serta aneka ritual peribadatan lain yang ribet dan bertele-tele. Bukankah dengan aksi bom bunuh diri, semuanya jadi lebih praktis dan mudah? Label syahid, sudah pasti. Ragam kenikmatan surgawi pun telah menanti. Inilah sesat pikir yang perlu kita benahi. Momentum Ramadan kali ini semestinya mampu kita manfaatkan untuk menabur benih-benih kedamaian dalam beragama. Lelah mengkampanyekan Islam sebagai Agama Cinta, sama juga memberikan peluang kepada teroris untuk melakukan tindakan-tindakan kekejian berikutnya. Nabi kita, Muhammad saw. selalu mengajarkan bahwa kekerasan dalam bentuk apapun tidak pernah diajarkan dalam misi risalah. "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya’: 107). Meninggikan derajat Tuhan tidak bisa dilakukan dengan cara merendahkan martabat kemanusiaan. Mendekatkan diri kepada Tuhan, mustahil kita kerjakan dengan cara menjauhi norma-norma kemanusiaan. Mutiara hikmah dari Syamsi Tabrizi, guru Jalaluddin Rumi, yang dikutip oleh Husein Muhammad dalam epilog buku "Islam Tuhan Islam Manusia" patut kita renungkan. "Mencintai Tuhan yang sempurna, suci, dan agung itu mudah. Yang paling sulit adalah mencintai manusia yang serba kekurangan. Ingatlah, orang tidak akan mengerti selain apa yang dia cintai. Selama kita tidak pernah belajar mencintai ciptaan Allah, maka kita tidak akan pernah benar-benar mencintai apapun dan tak akan pernah mengenal Allah." Mari kita terus belajar mencintai manusia lain, meskipun tidak seagama, sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah swt. Sang Mahacinta. "Wallahu a'lam bis shawab."

Admin Unisnu

Komentar