Pendidikan adalah Praktik Pembebasan

Pendidikan adalah Praktik Pembebasan

Oleh : Ahmad Saefudin, Dosen FTIK Unisnu Jepara


Hari ini kita merayakan Hari Pendidikan. Pendidikan lho ya. Bukan persekolahan. Sebab maknanya berbeda. Yang pertama adalah substansi. Yang kedua bungkusnya. 


Sebagai orang yang saban harinya bergelut di bidang persekolahan, kadang ngeri-ngeri sedap juga merenungi nasib institusi pendidikan kita. Entah karena sudah dari sononya, atau memang ada kuasa dari "tangan-tangan yang tak terlihat", semakin ke sini dunia sekolah kian pragmatis. 


Dari aspek luaran alumni, tujuan sekolah dibuat simpel sekali. Cari kerja, makan enak, dan tidur nyenyak. Dari "core values" yang bersifat transformatif, visi lembaga sekolah bergeser ke arah "corporate values" yang sangat mekanistik. Melalui cara pandang ini, sebaik apapun perilaku peserta didik, sepintar apapun inteligensinya, dan sekomplit apapun "skills" yang dimiliki, kalau kalah bersaing dalam bursa "pasar kerja", sama juga mencerminkan "kegagalan" almamaternya. Padahal sudah semestinya, "kerja" itu bukanlah orientasi dasar, melainkan efek samping yang secara otomatis akan didapatkan oleh peserta didik. 


Dari sisi proses pembelajaran, sejak masuk ke dunia persekolahan, kita sudah diajari sedemikian rupa untuk saling mengalahkan. Saya termasuk orang yang mengalami fase mencekam ini. Iklim kompetisi dirancang melalui sistem pemeringkatan. Ranking satu berarti "pintar" dan "cerdas", sedangkan hierarki di bawahnya dicap "bloon", "bodoh", dan "dungu". Dari sepetak ruang kelas, kita dipaksa menciptakan arena segregasi sosial. Yaitu kelas pemenang (the winner) dan pecundang (the losers). 


Celakanya, sekolah urung mengidentifikasi akar masalah sebenarnya, mengapa seseorang bisa masuk dalam kotak "pemenang", dan mengapa sebagian besar yang lain dijerumuskan ke dalam kasta "pecundang". Bukankah mencederai rasa keadilan, jika siswa yang datang dari aneka latar belakang (inteligensia, sosial, ekonomi, tradisi, dan budaya), langsung diadu begitu saja di dalam kelas? Pertanyaan futuristik lain yang perlu direspons, "apakah ada jaminan di kemudian hari, jika mereka yang dulunya rangking satu, akan lebih 'berhasil' dibandingkan dengan mereka yang rangking belasan?" Silahkan ingat masa lalu kita untuk mengkonfirmasi jawabannya.


Belum lagi persoalan liberalisasi persekolahan yang melahirkan istilah "sekolah favorit" dan "tidak favorit". Mengapa sebutan favorit diidentikkan dengan sekolah mahal? Kita yang kismin mustahil dong mengaksesnya? Mengapa institusi sekolah akhirnya dijadikan komoditas belaka? Dengan peserta didik (dan keluarganya) sebagai sapi perahnya? Untuk membongkar silang sengkarut yang demikian kompleks, butuh energi ekstra dan analisis ideologis yang agak "njlimet". Kita perlu baca teori kapitalisme, globalisasi, neo-liberalisme, dan budaya positivisme. Selain itu, kita juga butuh pembacaan komprehensif terhadap tingkah polah politisi dan para birokrat yang menentukan kebijakan pendidikan secara nasional pada level hulu.


Apapun itu, saya tetap optimis. Masih ada sekolah yang menyimpan spirit liberasi. Melepaskan keterpasungan peserta didik dari pelbagai bentuk ketertindasan dan alienasi. Yang dalam bahasa Al-Qur'an, "min al-dzulumati ila al-nuri." Karena pada hakikatnya, mengutip pandangan Paulo Freire, pendidikan adalah praktik pembebasan (education as the practice of freedom). 


Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2021. Selamat berproses menjadi guru yang membebaskan.


Admin FTK

Komentar