Memaknai Tradisi Nyekar


photo Abdul WahabDalam menyambut datangnya bulan Ramadan dan Syawal, masyarakat menyambutnya dengan berbagai tradisi yang unik dan sekaligus merepresentasikan kesukacitaan mereka akan hadirnya bulan suci yang penuh rahmat dan berkah ini. Berbagai kegiatan dan upacara tradisi dilaksanakan, tidak hanya yang indah dinikmati oleh yang masih hidup, semisal menata dan memperindah tempat tinggal dan tempat ibadah, tetapi juga menyuguhkan “sajian lezat” bagi mereka yang sudah tiada. Seperti berdoa secara massal, dan juga ziarah kubur keluarga secara bersama dengan menabur bunga, atau lazim disebut dengan istilah “nyekar”.

Konon, tradisi ini muncul berkat akulturasi budaya Islam-Jawa-Hindu, yang mana dalam kepercayaan Jawa, roh adalah abadi dan selalu “pulang” menemui keluarga pada setiap bulan “Ruwah” (dalam kalender Islam disebut Sya’ban), Ruwah berasal dari kata “Arwah” bentuk plural dari “Ruh” yang berarti roh. Sehingga, menurut kepercayaan ini, bulan Ruwah merupakan momentum untuk saling bertegur-sapa antara mereka yang sudah meninggal dengan mereka yang masih hidup. Hindu juga memiliki sapaan khas dengan roh nenek moyang dengan beragam sesaji, salah satunya adalah bunga (Jawa: sekar). Kemudian dalam Islam, ziarah kubur merupakan hal yang sangat positif dilakukan sebagai wahana mengingat akan kematian. Sehingga, dari sisi ritual, tradisi “nyekar” ini merupakan hal yang sangat positif, di samping sebagai wahana memperkuat tali salaturrahmi “lintas-alam” juga menjadi sarana mempertebal keimanan akan kehidupan setelah dunia.

Interpretasi terhadap makna tradisi “nyekar” ini memang harus lebih produktif. “Nyekar” bukan hanya realitas dari praktik keagamaan atau kepercayaan, tetapi bahkan lebih luas dari itu, tradisi “nyekar” melibatkan ranah kebudayaan, sosial, bahkan ekonomi. Karena tradisi “nyekar” di samping merupakan bentuk akulturasi dan model budaya keislaman pribumi, “nyekar” juga merupakan ajang merajut kembali akar historis serta merefleksikan masa depan. Artinya, dengan “nyekar” yang dimaknai secara lebih mendalam, seseorang diharapkan dapat merefleksikan sisi-sisi historis eksistensinya, dari mana dia berasal serta bagaimana dia dibesarkan dan dilimpahi kasih sayang oleh orang-orang yang dia datangi di maqbarahnya itu. Dengan begitu, diharapkan timbul rasa sayang, iba, dan harapan besar akan ampunan dari Tuhan untuk mereka yang telah “kembali” tersebut. Dan di sinilah ketulusan dan keikhlasan terwujud. Tidak hanya itu, tradisi “nyekar” juga diharapkan dapat merefleksikan apa yang harus diperbuat seseorang untuk masa depan, yang telah berada di dalam kubur pasti telah “meninggalkan” banyak “pekerjaan” yang belum terselesaikan, bisa berbentuk cita-cita perjuangan, atau bahkan hal-hal yang mungkin harus diperbaiki dalam kehidupan ke depan. Nah, yang masih hidup inilah yang harus “meneruskan” cita dan harapan tersebut serta memperbaiki semuanya.

Kemudian yang tak boleh terlupakan bahwa tradisi “nyekar” harus menjadi wahana mengingat kematian, yang mana kematian adalah hal yang pasti, tetapi mati dengan tenang dan husnul khatimah bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk mencapai ujung hidup yang indah harus pula terwujud upaya maksimal yang indah pula. Karena dalam bahasa agama, hanya yang kita perbuatlah yang nanti kita bawa sebagai bekal menghadap-Nya, berupa amal yang tiada putus pahalanya (amal jariyah), ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang senantiasa mendoakan.

Saat ini, tidak lagi relevan membicarakan apakah tradisi “nyekar” adalah merupakan hal yang halal atau haram, sunnah atau bid’ah, dianjurkan atau bahkan terlarang. Karena dalam realitas kebangsaan dan keberagamaan di Indonesia, akulturasi budaya selalu menjadi hal yang bahkan “memperkaya” dimensi-dimensi kehidupan. Tradisi “nyekar” dengan mengunjungi makam tertentu, apakah makam saudara, kerabat, tokoh-tokoh “hebat”, dan lainnya, ditambah dengan upacara tabur bunga di atasnya, ternyata telah terpraktekkan sepanjang sejarah peradaban bangsa ini, lantas, apa yang salah? Yang salah hanyalah apabila terjadi disorientasi dalam tradisi tersebut. Tradisi nyekar yang semula diniatkan untuk selalu mengenang jasa dan cita-cita mereka yang telah tiada, yang asalnya dimaksudkan sebagai wahana mengingat kematian dan kehidupan setelah kematian, sebagai ajang refleksi dan interospeksi diri, serta sebagai wahana “balas budi” dengan sebanyak-banyaknya serta seikhlas-ikhlasnya mengirim untaian doa pengampunan, malah berubah menjadi praktik-praktik “kemusyrikan”, menyembah kuburan, meminta-minta kepada kuburan, bahkan menggantungkan urusan hidup dan kehidupan dengan “wangsit” dari kuburan. Inilah yang perlu diluruskan.

“Nyekar” harus selalu dilakukan sebagai wujud masyarakat yang berbudaya, yang keberagaman dan keberagamaannya terlihat syi’ar lahir-batin. Dengan tradisi “nyekar” akan terlihat adanya komunikasi yang selalu terbangun antara mereka yang telah meninggal dan mereka yang masih hidup, dan itu seharusnya menjadi bukti nyata bahwa mereka yang telah “kembali” ke hadirat-Nya adalah orang-orang yang “terkenang” dan bukan yang “terlupakan”, sekaligus membuktikan bahwa mereka yang masih hidup dan mengunjungi dengan taburan bunga dan untaian doa-doa merupakan generasi shalih yang selalu mendoakan. Tradisi “nyekar” (terlebih yang dilakukan di akhir sya’ban, mengahadapi ramadhan) juga menjadi pengingat –secara kultural- bahwa kita harus bersiap memasuki bulan yang penuh berkah, rahmah, dan ampunan, sehingga untuk mencapai itu semua, perlu yang namanya pembersihan diri (tazkiyatun nafs), di atara caranya adalah dengan memperbanyak istighfar, membaca ayat-ayat suci, minta maaf pada sanak saudara baik yang hidup maupun yang telah meninggal, serta mengingat akan kematian dan kehidupan setelah kematian, dan langkah-langkah semacam ini terwadahi dalam satu ritual yaitu “nyekar”. Begitu pula yang dilakukan di akhir ramadhan (menghadapi syawwal), seakan-akan mengingatkan bahwa bulan termulya sebentar lagi meninggalkan kita, sehingga sudah seharusnya kita tetap mempertahankan berkah, rahmah, dan ampunan yang -insya Allah- telah kita raih di Ramadhan kemarin, dengan tetap menjaga “kesucian” diri menuju fitrah, tidak melupakan istighfar, tidak melalaikan membaca ayat-ayat suci, tetap mengenang dan mendoakan mereka yang telah kembali pada-Nya, serta tetap menjaga silaturrahmi “lintas-alam” sebagaimana ramai dan hangatnya tempat-tempat pemakaman pada hari-hari tersebut. Inilah syi’ar budaya, yang sudah selayaknya kita apresiasi sebagai sebuah tradisi yang “mengingatkan”, meramaikan, serta mencerahkan syi’ar keagamaan kita. Selamat ber-Ramadhan dan berpuasa, semoga Allah selalu melimpahkan keberkahan, kasih sayang dan ampunan-Nya kepada kita sekalian, mu’min yang taat.

Penulis : Abdul Wahab Saleem, S.So.I., MSI | Ka Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam FDK UNISNU Jepara, beliau juga dosen di FTIK UNISNU Jepara.

Sumber : Muria News| Tulisan ini telah dimuat di Koran Muria edisi 3 Juli 2014


Admin Unisnu

Komentar