Guru, Teladan yang Siap Berkorban

Oleh: Ahmad Saefudin, M.Pd.I. l Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UNISNU Jepara

Menjadi seorang guru bukan profesi yang mudah, sebab sudah harus "selesai" dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin melakukan aktivitas transfer pengetahuan (ta'lim) kepada peserta didik, jika ia sendiri belum tahu? Bisakah ia memperadabkan (ta'dib) generasi ke generasi tanpa beradab terlebih dahulu? Sanggupkah ia "nguri-uri liyan" sebagai fungsi "tarbiyah", dengan tidak menyandang predikat terdidik? Mustahil ia membelajarkan (tadris) dan membersihkan nurani (tahdzib) siswa-siswinya dari segala macam cela, sementara dirinya malas belajar dan masih dipenuhi penyakit-penyakit hati?

Belum lagi guru dituntut untuk memenuhi label "profesionalisme" versi konstitusi. Guru tidak saja harus cakap secara individu (personal), tetapi juga tidak bisa tidak kudu memahami konsep pembelajaran secara utuh mulai dari perencanaan hingga evaluasi (kompetensi pedagogis). Itu saja belum cukup. Guru perlu juga mengasah kemampuan berkomunikasi terhadap pihak-pihak di luar dirinya (sosial) dan wajib bergelar sarjana jika ingin dikatakan profesional. Sehebat apapun kita dalam menyederhanakan persoalan yang kompleks, pandai berimprovisasi dalam proses pembelajaran melalui aneka metode yang variatif, dan lincah bersosialisasi dengan berbagai "stakholders" pendidikan, ya masih saja dicap tidak profesional ketika menafikan satu lembar kertas yang bernama ijazah. Kualifikasi akademik guru pun perlu disesuaikan dengan mata pelajaran yang diampu.

Seabreg persyaratan yang tidak gampang di atas terkadang belum diimbangi oleh konsekuensi logis yang ia terima. Sebagai pekerjaan, banyak guru --terutama mereka yang bekerja di lembaga sekolah swasta dan belum "dinegerikan", tidak mendapatkan kelayakan honor. Jangankan menyambung kepulan asap dapur, untuk biaya "bensin" saja sering kali "tombok". Buat sekedar bayar cicilan motor, guru harus mencari pekerjaan sampingan. "Ngojek" sekalipun ia lakukan, demi memutar roda perekonomian rumah tangga. Sampai anaknya sendiri tidak terurus karena sibuk mengurus anaknya orang lain di sekolah. Wal hasil, siapapun yang ingin menjadikan profesi guru sebagai lahan pekerjaan, maka bersiap-siaplah untuk berkorban atas nama pengabdian dalam hidupnya. Saya sedang tidak menakut-nakuti. Hanya mencoba menampakkan realitas yang sewajarnya. Sehingga, calon-calon guru yang sekarang masih bergelut di fakultas keguruan kelak tidak kaget. Sanggup menerima keadaan sebagai kenyataan, pahit sekalipun.

Calon guru membutuhkan mentalitas pejuang. Kadar keikhlasan mereka harus berukuran jumbo. Jika jadi guru berharap ingin kaya, saya sarankan segera balik kanan dan pilih alternatif profesi lain yang lebih menjanjikan. Lalu, apakah profesi guru sama sekali tidak ada enaknya? Sedikitpun? Urusan enak atau tidak enak adalah wilayah rasa. Orang Jawa menyebutnya "wang sinawang". Enak menurut kita belum tentu enak menurut orang lain. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya. Toh dengan gaji yang serba sedikit itu, nyatanya guru-guru swasta tetap menampakkan wajah yang bersahaja. Jarang "nggrundel", tidak banyak menuntut, dan terkadang jumlah cicilan utangnya lebih sedikit daripada guru "negeri". Lilitan persoalan ekonomi tidak membuatnya frustasi. Tetap bisa ketawa-ketiwi.

Bisa jadi guru tersebut mengamalkan petuah Mbah Mun (KH. Maimun Zubair), "Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar”. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga."

Selamat hari guru. Jadilah guru pembebas bagi murid-muridnya. Dengan begitu kita telah memerdekakan para pembelajar. Pramoedya Ananta Toer melalui "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" berpesan, "Apa gunanya terpelajar itu belajar tentang prinsip-prinsip kemerdekaan kalau kebebasannya tidak terjamin?" Jagalah gelar kita sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa". Karena Pram juga pernah bilang, "keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri." Wallahu a'lam bisshawab.

Komentar



Berita Terkait